8 Mei 2014

0

3 Jiwa dan 2 Cinta


“Aku cinta sama kamu, mau nggak kamu jadi istriku nanti?” Tanya Ruly kepada Rheina di suatu sore yang dingin. Hujan baru saja reda, sisa-sisa air bahkan belum beranjak dari palung daun. Ucapan Ruly menambah beku sore itu, bagi hati Rheina.
Rheina diam, batinnya bergejolak, seandainya bisa, ia akan langsung mengangguk seraya tersenyum, menerima tawaran Ruly. Siapa yang tak bersedia menjadi pengisi hati Ruly, laki-laki yang menjadi idaman ibu-ibu untuk di jadikan menantu, menjadi idaman wanita untuk dijadikan imam hidupnya.
Tapi bukan, bagi Rheina.
Rheina bersahabat dengan Ruly sejak awal kuliah, bertiga dengan Ilma. Mereka saling kenal saat bersama-sama aktif dalam organisasi kerohanian. Ruly laki-laki yang baik, pandai, dan religius. Ruly sering menegur saat Rheina dengan asyik berceloteh tentang penampilan mahasiswa lain bersama dengan Ilma. “Cantik, berhijab, tapi kok ghibah” begitu kata Ruly yang selalu menyisakan tawa bagi keduanya.
“Rhei, aku tahu, selama ini, kamu nggak pernah berhubungan dengan laki-laki selain aku, sebagai sahabatmu, karena aku tau kamu pasti tak ingin hubungan kecuali pernikahan. dan sekarang aku menawarimu, bagaimana?” Ruly melanjutkan kata-katanya.
Namun Rheina tak kunjung berucap. Hanya diam dan bungkam.
Ya, Ruly benar. Rheina memang tak ingin berhubungan dengan laki-laki manapun, kecuali untuk Ruly, sebagai sahabat. Rheina juga menginginkan pernikahan, seperti yang kaum hawa inginkan, membangun rumah tangga, memiliki anak yang lucu dan menggemaskan. Tapi Ruly tak tahu, orang tua Rheina tak tahu, ada sesuatu yang tak bisa Rheina jelaskan. Sesuatu tentang dirinya, perasaannya.
***
Ilma merasa was-was membaca pesan Rheina di ponselnya. Rheina baru saja dilamar Ruly, sahabat mereka. Jika Rheina mengatakan yang sebenarnya, maka Ruly akan tahu, semua orang akan tahu. Tentang mereka, bahwa mereka selama ini bukan hanya sekedar sahabat. Bahwa sebenarnya mereka saling menyimpan rasa, rasa yang tak seharusnya. Bahwa mereka ternyata diam-diam saling mencinta. Ilma mencintai Rheina, begitu juga sebaliknya, bukan sekedar sahabat, tapi sebagai wanita dewasa, wanita yang memiliki hasrat di jiwa. Ruly tak tahu, bahwa di balik jilbab yang Rheina dan Ilma kenakan, diam-diam mereka menyimpan rasa yang tak sejalan dengan ajaran agama. Bahwa diam-diam Rheina dan Ilma sering jalan berdua, sekedar memuaskan hasrat mencinta, yang pasti tak ada yang curiga dengan jilbab menutupi mahkota mereka. Ruly juga tak tahu, bahwa diam-diam Ilma dan Rheina sering menghabiskan malam bersama, seperti merpati yang dimabuk asmara.
***
“Maaf Ruly, aku nggak bisa, aku mencintai orang lain” Jawab Rheina singkat. Rheina menunduk, tak ingin melihat wajah Ruly, Rheina merasa wajah Ruly terlalu suci untuk sekedar Rheina pandang. “Aku yakin, ada yang lebih pantas untuk jadi pendamping kamu dari pada aku” Rheina melanjutkan. Ya, wanita yang berhak mendampingi kamu itu pasti bukan aku, batin Rheina. Ruly tak tahu, bahwa sebenarnya di balik jilbab dan tubuh wanitanya, Rheina menyembunyikan rahasia terdalamnya. Rahasia tentang perasaannya.
Bahwa Rheina mencintai sahabat wanitanya, bahwa Rheina mencintai Ilma.

0 komentar:

Posting Komentar