Aku terduduk di depan meja, menatap nanar kepada amplop-amplop yang seolah bersedih dilupakan pemiliknya. Amplop berisi surat-surat Nisa. Sudah sekitar 3 tahun sejak bencana yang membumi hanguskan tempat tinggal Nisa, sejak saat itu juga aku kehilangan kontak dengan Nisa.
Tapi tadi malam sesuatu diluar dugaanku terjadi, aku kaget, tercengang, dan tak percaya. Aku bertemu Nisa. Aku bahagia bisa menemukannya. Namun aku juga miris melihatnya. Aku melihat Nisa di trotoar tempat wanita-wanita malam biasa mangkal. Aku melihatnya menggandeng seorang om-om seumuran ayah. Awalnya aku tak percaya itu Nisa, tapi setelah beberapa saat, aku yakin itu Nisa, dengan rambut poninya yang masih menutupi mata. Nisa sekarang memang sudah remaja, tumbuh menjadi gadis belia yang, meski tak menggoda, tapi cukup menarik hati bagi om-om yang lapar nafsu.
“Nisa” aku memanggilnya dengan ragu. Nisa menoleh, tercengang melihatku. Kemudian memalingkan muka, seolah tak mengenalku. Nisa mempercepat langkah, dengan om yang masih saja bergelayutan di pundaknya, tampaknya sedang mabuk.
Aku mencoba mengejar Nisa. “Nisa” ucapku sambil meraih tangannya. Belum sempat aku memegang tanganya, Nisa buru-buru mengibaskan tangan menjauhi tanganku. “siapa ya?” tanyanya ketus. “Nisa, ini Mbak Dias. Kamu Nisa kan?” aku mencoba menjelaskan. “Mbak Dias siapa? Maaf mungkin anda salah orang” ucapan Nisa membuatku semakin yakin ia sengaja pura-pura tak mengenalku. Nisa berlalu begitu saja, meninggalkan aku dengan perasaan yang tak menentu.
***
Kemarin malam aku bertemu Mbak Dias. Aku berpura-pura tak mengenalnya, meski mungkin Mbak Dias tau aku berpura-pura, meski aku sebenarnya ingin membalasnya dengan anggukan, meski aku sebenarnya ingin memeluknya, menceritakan semuanya.
Mbak Dias pasti bertanya mengapa aku menjadi seperti ini. Tapi aku tak bisa memberitahunya, untuk saat ini. Aku selalu berharap aku bisa menceritakannya, entah esok, lusa, atau hari-hari yang akan datang.
Sejak bencana beberapa tahun lalu menghilangkan rumahku, menenggelamkan cita-citaku, dan cita-cita Mbak Dias yang dititipkan padaku, juga, aku di asuh oleh seorang wanita yang mengaku memiliki yayasan anak yatim. Aku di iming-imingi kasih saying orang tua, saudara, dan riuhnya teman. Aku menginginkan itu semua, jadi tanpa pikir panjang aku menyetujui untuk ikut bersamanya. Namun yang ku temui sekarang, adalah semua yang di janjikan dulu hanyalah omong kosong belaka. Wanita itu, tak lebih hanya menampung wanita-wanita untuk dipekerjakan, mencari uang, menambah pundi-pundi rupiahnya. Aku ingin pergi, tapi tak bisa, aku hanya keluar untuk ‘tugas’, setelah itu harus langsung kembali, selalu seperti itu setiap hari.
Cita-citaku, menjadi guru yang mengajarkan tentang akhlak yang baik, tapi apa yang ku kerjakan sekarang justru jauh dari nama baik. “Mbak yakin suatu hari nanti kamu akan menjadi guru yang baik, yang penuh kreatif dan inisiatif” kata-kata Mbak Dias masih mengiang di telingaku. “nanti kita kerjasama bikin perusahaan yang memproduksi barang handmade ya” begitu salah satu tulisan di suratnya setelah aku mengirimkan celengan Winnie The Pooh kesukaannya yang ku buat sendiri. Aku tersenyum mengingatnya. Berharap semua menjadi nyata, saat aku terbangun esok hari, atau entah kapan.
Yang pasti, seperti kata Mbak Dias, aku adalah dandelion yang tangguh dan perkasa, tak gentar di hantam duka lara.

0 komentar:
Posting Komentar