Tentang
Cinta .2.
Kau
menelponku di suatu siang yang panas, saat kondisiku tak terlalu baik, bahkan
mungkin buruk. Kebetulan aku sedang menunggumu, seperti yang selalu aku
lakukan. Menunggu dering ponselku, pertanda pesan darimu, menunggu namamu
muncul di layar hapeku.
“masih
sakit?,” tanyamu, masih dengan suaramu yang lembut, yang selalu terdengar
syahdu untukku.
“masih,
tapi udah agak baikan, nggak usah khawatir ya, konsentrasi kerja aja” jawabku
mencoba membuat keadaan lebih baik. Aku tak ingin membuatmu khawatir.
“udah
makan? Obatnya udah diminum?” kau masih tak henti bertanya.
“udah
semua” aku berbohong, mana mungkin aku mengatakan bahwa aku membuang semua
pil-pil merah yang seharusnya masuk ke perutku, kecuali aku hanya akan
mendengar ocehanmu, dan semua kata-kata perhatian yang terdengar indah, memang,
tapi aku benar-benar jenuh, benar-benar tak ingin lagi melihat, apalagi
mengkonsumsi pil pahit merah itu.
Aku
membuang napas, maaf, ucapku dalam hati. Aku tak ingin berbohong, tapi bisakah
kau memaklumi kebohonganku kali ini, dan mungkin untuk esok-esok lagi?
“jangan
sakit lagi ya” kata-katamu mengagetkanku.
“iya,
aku janji nggak akan sakit lagi” aku mengatakannya dengan rasa sesak memenuhi
rongga dada. Mataku, entah bagaimana, berkaca-kaca.
“kenapa
menangis?” Tanyamu tiba-tiba, mungkin kau mendengar isak yang ku sembunyikan.
“kapan
pulang? Aku kangen” jawabku, sambil menahan isak yang semakin banyak. Ya, aku
merindukanmu, merindukan kehadiranmu.
“aku
mau sembuh, aku mau minum obat, aku mau semuanya, tapi kamu pulang ya?” aku
merengek.
Kau
diam, bungkam. Entah apa yang ada di benakmu, entah apa yang ada di pikiranmu,
mungkinkah aku yang terlalu egois dan kekanak-kanakan.
***
Siang
yang panas, aku baru saja selesai maka siang bersama peserta pelatihan. Ku dengar
kau sedang sakit, aku menyempatkan menelpon, untuk mengetahui keadaanmu.
Mungkin
saat ini kau sedang menungguku, seperti biasanya, yang sering kau lakukan,
menunggu pesanku, menunggu telponku.
“masih
sakit?,” tanyaku, dengan suaraku yang lembut, katamu, yang selalu terdengar
syahdu untukmu.
“masih,
tapi udah agak baikan, nggak usah khawatir ya, konsentrasi kerja aja” jawabmu
mencoba membuat keadaan lebih baik. Aku tau kau tak ingin membuatku khawatir.
“udah
makan? Obatnya udah diminum?” aku masih tak henti bertanya.
“udah
semua” jawabmu. Singkat. Mungkin kau berbohong, mungkin kau sebenarnya membuang
pil-pil itu, ke bawah kasurmu, seperti dulu, mungkin kau jenuh dan bosan dengan
pil-pil itu, mungkin kau tak ingin lagi melihatnya, apalagi menelannya.
Ku
dengar kau membuang napas, mungkin dalam hati kau mengucap maaf, dan memintaku
untuk memaklumi kebohonganmu, saat ini, dan untuk esok hari.
“jangan sakit lagi ya” kata-kataku yang
tiba-tiba mengagetkanmu.
“iya,
aku janji nggak akan sakit lagi” jawabmu, dengan dada penuh sesak. Aku
membayangkan matamu berkaca-kaca, seperti biasanya, dulu kala.
“kenapa menangis?” Tanyaku, aku sempat
mendengar isak yang kau sembunyikan.
“kapan
pulang? Aku kangen” jawabmu, sambil menahan isak yang semakin banyak. Ya, kau
merindukanku, merindukan kehadiranku.
Seperti
aku, yang merindukanmu, sangat merindukanmu, juga.
“aku
mau sembuh, aku mau minum obat, aku mau semuanya, tapi kamu pulang ya?” kau
merengek, membuatku rinduku semakin berat.
Aku
diam, bungkam. Mungkin kau bertanya apa yang ada di benakku, entah apa yang ada
di pikiranku. Apakah aku terlalu egois dengan seperti ini? Tanyaku dalam hati.
Maafkan
aku, aku menyayangimu, mencintaimu, dan merindukanmu, sangat. Ku harap kau
memahami keadaanku. Kontrak kerjaku 3 bulan lagi. Ku harap kau akan sabar
menunggu.
Lalu
tiba-tiba kau memutuskan telponku.
***
Aku
memutus panggilan telpon. Dan menagis.
Aku
menyayangimu. Terlalu mencintaimu. Aku tau kontrak kerjamu 3 bulan lagi
berakhir, dan aku akan menunggumu, seperti yang ku lakukan dulu, menunggu
kepulanganmu.

0 komentar:
Posting Komentar