27 Mei 2014

0

Tentang Cinta 2



Tentang Cinta .2.
Kau menelponku di suatu siang yang panas, saat kondisiku tak terlalu baik, bahkan mungkin buruk. Kebetulan aku sedang menunggumu, seperti yang selalu aku lakukan. Menunggu dering ponselku, pertanda pesan darimu, menunggu namamu muncul di layar hapeku.
“masih sakit?,” tanyamu, masih dengan suaramu yang lembut, yang selalu terdengar syahdu untukku.
“masih, tapi udah agak baikan, nggak usah khawatir ya, konsentrasi kerja aja” jawabku mencoba membuat keadaan lebih baik. Aku tak ingin membuatmu khawatir.
“udah makan? Obatnya udah diminum?” kau masih tak henti bertanya.
“udah semua” aku berbohong, mana mungkin aku mengatakan bahwa aku membuang semua pil-pil merah yang seharusnya masuk ke perutku, kecuali aku hanya akan mendengar ocehanmu, dan semua kata-kata perhatian yang terdengar indah, memang, tapi aku benar-benar jenuh, benar-benar tak ingin lagi melihat, apalagi mengkonsumsi pil pahit merah itu.
Aku membuang napas, maaf, ucapku dalam hati. Aku tak ingin berbohong, tapi bisakah kau memaklumi kebohonganku kali ini, dan mungkin untuk esok-esok lagi?
“jangan sakit lagi ya” kata-katamu mengagetkanku.
“iya, aku janji nggak akan sakit lagi” aku mengatakannya dengan rasa sesak memenuhi rongga dada. Mataku, entah bagaimana, berkaca-kaca.
“kenapa menangis?” Tanyamu tiba-tiba, mungkin kau mendengar isak yang ku sembunyikan.
“kapan pulang? Aku kangen” jawabku, sambil menahan isak yang semakin banyak. Ya, aku merindukanmu, merindukan kehadiranmu.
“aku mau sembuh, aku mau minum obat, aku mau semuanya, tapi kamu pulang ya?” aku merengek.
Kau diam, bungkam. Entah apa yang ada di benakmu, entah apa yang ada di pikiranmu, mungkinkah aku yang terlalu egois dan kekanak-kanakan.
***
Siang yang panas, aku baru saja selesai maka siang bersama peserta pelatihan. Ku dengar kau sedang sakit, aku menyempatkan menelpon, untuk mengetahui keadaanmu.
Mungkin saat ini kau sedang menungguku, seperti biasanya, yang sering kau lakukan, menunggu pesanku, menunggu telponku.
“masih sakit?,” tanyaku, dengan suaraku yang lembut, katamu, yang selalu terdengar syahdu untukmu.
“masih, tapi udah agak baikan, nggak usah khawatir ya, konsentrasi kerja aja” jawabmu mencoba membuat keadaan lebih baik. Aku tau kau tak ingin membuatku khawatir.
“udah makan? Obatnya udah diminum?” aku masih tak henti bertanya.
“udah semua” jawabmu. Singkat. Mungkin kau berbohong, mungkin kau sebenarnya membuang pil-pil itu, ke bawah kasurmu, seperti dulu, mungkin kau jenuh dan bosan dengan pil-pil itu, mungkin kau tak ingin lagi melihatnya, apalagi menelannya.
Ku dengar kau membuang napas, mungkin dalam hati kau mengucap maaf, dan memintaku untuk memaklumi kebohonganmu, saat ini, dan untuk esok hari.
 “jangan sakit lagi ya” kata-kataku yang tiba-tiba mengagetkanmu.
“iya, aku janji nggak akan sakit lagi” jawabmu, dengan dada penuh sesak. Aku membayangkan matamu berkaca-kaca, seperti biasanya, dulu kala.
 “kenapa menangis?” Tanyaku, aku sempat mendengar isak yang kau sembunyikan.
“kapan pulang? Aku kangen” jawabmu, sambil menahan isak yang semakin banyak. Ya, kau merindukanku, merindukan kehadiranku.
Seperti aku, yang merindukanmu, sangat merindukanmu, juga.
“aku mau sembuh, aku mau minum obat, aku mau semuanya, tapi kamu pulang ya?” kau merengek, membuatku rinduku semakin berat.
Aku diam, bungkam. Mungkin kau bertanya apa yang ada di benakku, entah apa yang ada di pikiranku. Apakah aku terlalu egois dengan seperti ini? Tanyaku dalam hati.
Maafkan aku, aku menyayangimu, mencintaimu, dan merindukanmu, sangat. Ku harap kau memahami keadaanku. Kontrak kerjaku 3 bulan lagi. Ku harap kau akan sabar menunggu.
Lalu tiba-tiba kau memutuskan telponku.
***
Aku memutus panggilan telpon. Dan menagis.
Aku menyayangimu. Terlalu mencintaimu. Aku tau kontrak kerjamu 3 bulan lagi berakhir, dan aku akan menunggumu, seperti yang ku lakukan dulu, menunggu kepulanganmu.

0 komentar:

Posting Komentar