Aku mengambil koran langganan Ayah
yang setiap pagi selalu saja sudah bertengger manis di depan gerbang. Aku
menggerutu, untuk apa membaca berita-berita ini toh tindak kriminal tidak
berkurang, malah semakin meningkat, juga hanya membuat dada sesak penuh rasa
iba. Tapi meski tak mengerti dan menyukai berita kriminal ataupun berita
lainnya, entah kenapa, tiba-tiba hatiku tergelitik untuk mengambil dan membacanya. Ku buka halamannya
satu per satu. Tak ada yang menarik, gumamku. Ku letakkan koran itu kembali ke
pembaringannya. Namun tiba-tiba saja pandanganku terpaku pada sebuah judul
berita tentang sebuah bencana di sebuah Desa yang tak asing lagi bagiku. Desa
tempat tinggal Nisa. Ku raih lagi lembaran kusam itu. Ku baca. Aku tercengang.
Tak berkutik, tubuhku lemas dan tak berdaya. Nisa. Ya, Nisa. Rumah yang masih
melekat dalam ingatanku, dindingnya, lantainya, maupun atapnya, yang ku harap
suatu hari nanti menjadi istana yang lebih baik untuk Nisa, yang ku harap suatu
hari nanti menjadi tempat tinggal penuh cinta untuk Nisa, yang ku harap nanti
Nisa bahagia berada didalamnya, kini harapan itu tinggal asa belaka, musnah
semusnah-musnahnya. Sebuah bencana telah menghancurkan Desa dan rumahnya.
Sebuah bencana telah meruntuhkan impian yang ku bangun bersama Nisa.
Sejak kepulanganku dari tempat wisata
di Desa tempat Nisa tinggal, aku selalu mengirim surat untuknya. Aku
meninggalkan alamatku padanya agar ia bisa membalas suratku. Dia bercerita
tentang keadaannya, masih sama, ibu yang suka memukul dan bertindak kasar, ayah
yang pendiam dan penurut, dan pekerjaan mencabuti rumput-rumput liar yang
tumbuh di sawah. Aku sering mengirimkan
buku bacaan untuk anak kepadanya, juga buku-buku tentang kreatifitas seperti
handcraft dan origami. Terkadang aku juga menyelipkan beberapa lembar uang agar
ia bisa membeli keperluannya, juga termasuk biaya pos untuk membalas suratku.
“mbak, Nisa sudah bisa membuat
kerajinan tangan sekarang meski pake barang bekas, Nisa menjualnya kepada
anak-anak di sekolah, mereka menyukainya, uang hasil jualan bisa buat beli
bahannya, sama beras, Nisa juga bantu-bantu jualan di warung dekat sekolah,
jadi bisa di tabung meski sedikit. Nanti Nisa pingin punya tempat untuk latihan
membuat kerajinan dengan anak-anak lain, supaya bisa mengajari mereka dan
membuat usaha kecil-kecilan bersama” tulis Nisa di salah satu suratnya, tak
lupa ia menyertakan sebuah handcraft celengan dengan motif Winnie The Pooh
kesukaanku, “Nisa sengaja kasih Mbak Dias celengan supaya Mbak bisa selalu
ingat menabung dan tidak boros, hehe” kata-kata Nisa membuat hatiku trenyuh.
Nisa masih kecil, tapi dia sudah berpikir tentang masa depan, tentang tidak
menghambur-hamburkan uang.
Mulai saat itu, aku selalu berusaha
untuk memberi Nisa referensi yang bagus untuk karyanya. Dan aku yakin, suatu
hari nanti, cita-citanya yang mulia akan terlaksana.
Tapi semua impianku seolah tak
tersisa, menguap di udara hampa, seiring terjadinya bencana yang
memporak-porandakan Nisa dan kehidupan yang mulai di bangunnya. Aku terduduk
lesu, tulang-tulangku tak lagi mampu menahan berat pikiran dan rasa kagetku.
Semua hilang melayang. Mimpiku, mimpi Nisa, dan semua hal yang telah kita
angankan bersama.
Semoga Nisa, seperti yang ku katakan padanya,
tetap menjadi dandelion yang tangguh perkasa meski di hempas duka lara, tetap
menjadi dandelion yang mempesona.

0 komentar:
Posting Komentar