6 Mei 2014

0

Nisa Part 2


Aku mengambil koran langganan Ayah yang setiap pagi selalu saja sudah bertengger manis di depan gerbang. Aku menggerutu, untuk apa membaca berita-berita ini toh tindak kriminal tidak berkurang, malah semakin meningkat, juga hanya membuat dada sesak penuh rasa iba. Tapi meski tak mengerti dan menyukai berita kriminal ataupun berita lainnya, entah kenapa, tiba-tiba hatiku tergelitik untuk  mengambil dan membacanya. Ku buka halamannya satu per satu. Tak ada yang menarik, gumamku. Ku letakkan koran itu kembali ke pembaringannya. Namun tiba-tiba saja pandanganku terpaku pada sebuah judul berita tentang sebuah bencana di sebuah Desa yang tak asing lagi bagiku. Desa tempat tinggal Nisa. Ku raih lagi lembaran kusam itu. Ku baca. Aku tercengang. Tak berkutik, tubuhku lemas dan tak berdaya. Nisa. Ya, Nisa. Rumah yang masih melekat dalam ingatanku, dindingnya, lantainya, maupun atapnya, yang ku harap suatu hari nanti menjadi istana yang lebih baik untuk Nisa, yang ku harap suatu hari nanti menjadi tempat tinggal penuh cinta untuk Nisa, yang ku harap nanti Nisa bahagia berada didalamnya, kini harapan itu tinggal asa belaka, musnah semusnah-musnahnya. Sebuah bencana telah menghancurkan Desa dan rumahnya. Sebuah bencana telah meruntuhkan impian yang ku bangun bersama Nisa.
Sejak kepulanganku dari tempat wisata di Desa tempat Nisa tinggal, aku selalu mengirim surat untuknya. Aku meninggalkan alamatku padanya agar ia bisa membalas suratku. Dia bercerita tentang keadaannya, masih sama, ibu yang suka memukul dan bertindak kasar, ayah yang pendiam dan penurut, dan pekerjaan mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh di sawah.  Aku sering mengirimkan buku bacaan untuk anak kepadanya, juga buku-buku tentang kreatifitas seperti handcraft dan origami. Terkadang aku juga menyelipkan beberapa lembar uang agar ia bisa membeli keperluannya, juga termasuk biaya pos untuk membalas suratku.
“mbak, Nisa sudah bisa membuat kerajinan tangan sekarang meski pake barang bekas, Nisa menjualnya kepada anak-anak di sekolah, mereka menyukainya, uang hasil jualan bisa buat beli bahannya, sama beras, Nisa juga bantu-bantu jualan di warung dekat sekolah, jadi bisa di tabung meski sedikit. Nanti Nisa pingin punya tempat untuk latihan membuat kerajinan dengan anak-anak lain, supaya bisa mengajari mereka dan membuat usaha kecil-kecilan bersama” tulis Nisa di salah satu suratnya, tak lupa ia menyertakan sebuah handcraft celengan dengan motif Winnie The Pooh kesukaanku, “Nisa sengaja kasih Mbak Dias celengan supaya Mbak bisa selalu ingat menabung dan tidak boros, hehe” kata-kata Nisa membuat hatiku trenyuh. Nisa masih kecil, tapi dia sudah berpikir tentang masa depan, tentang tidak menghambur-hamburkan uang.
Mulai saat itu, aku selalu berusaha untuk memberi Nisa referensi yang bagus untuk karyanya. Dan aku yakin, suatu hari nanti, cita-citanya yang mulia akan terlaksana.
Tapi semua impianku seolah tak tersisa, menguap di udara hampa, seiring terjadinya bencana yang memporak-porandakan Nisa dan kehidupan yang mulai di bangunnya. Aku terduduk lesu, tulang-tulangku tak lagi mampu menahan berat pikiran dan rasa kagetku. Semua hilang melayang. Mimpiku, mimpi Nisa, dan semua hal yang telah kita angankan bersama. 
Semoga Nisa, seperti yang ku katakan padanya, tetap menjadi dandelion yang tangguh perkasa meski di hempas duka lara, tetap menjadi dandelion yang mempesona.

0 komentar:

Posting Komentar