5 Mei 2014

0

Nisa Part.1

namanya Nisa. aku mengenalnya saat kebetulan aku dan teman-temanku berkunjung ke suatu tempat wisata. Nisa adalah anak seorang petani di pinggiran Desa tersebut. pertama kali bertemu, aku di buat jengkel olehnya, kami memilih tempat tersebut karena menginginkan suasana yang tenang dan damai, tapi selalu saja Nisa datang dengan temannya, bertengkar. saling menjambak, berteriak, lalu menangis.

aku penasaran dengan Nisa, lalu ku datangi rumahnya. aku tercengang. rumah berdinding kayu dengan lubang disana-sini, berlantai tanah dengan selimut debu, dan atap yang,,,ahh sungguh tak bisa dijelaskan.

"prangg..!!!!" sebuah suara mengagetkanku. lalu Nisa keluar rumah sembari berlari di ikuti seorang wanita muda yang tampak tak terlalu mengurus diri, yang ku kira adalah ibunya. "kalau kamu mau makan, kerja dulu, cari uang, cari beras, jangan cuma main-main, kamu kira dengan bermain beras bisa jatuh dari langit,? hah?" wanita itu mebentak Nisa sambil menjjewer telinganya, ku lihat Nisa menahan sakit, meringis. tiba-tiba wanita itu mendorong Nisa ke tanah, lalu dengan cepat berjalan memasuki rumah. aku mendekatinya, membangunkannya, dan mengajaknya ke penginapan. lihatlah, Nisa dengan rambut poninya yang menutupi mata, bekas-bekas luka di wajahnya, baju yang tak sesuai ukuran tubuhnya, kaki yang telanjang dengan warna gelap gulita, ahh sungguh pemandangan yang menyesakkan dada.

aku bertanya beberapa kali, dan akhirnya Nisa bercerita, tentang dirinya, tetang keluarganya, ia seharusnya sudah kelas 5 SD, tapi ekonomi keluarganya tak pernah cukup untuk membiayainya. ayahnya hanya kuli tani, begitupun ibunya. ibu Nisa menjadi begitu galak karena sawah warisan satu-satunya yang dimiliki harus di jual untuk membiayai pengobatannya, sehingga hidupnya sekarang ssemakin sulit, dan tak ada sumber penghasilan yang pasti. "Nisa ingin jadi guru" ucapnya suatu ketika. "kenapa?" tanyaku. "supaya Nisa bisa mengajar tentang akhlak yang bagus, dan cara menghormati orang tua, dan anak-anak" jawabannya membuatku kagum sekaligus sedih. sedih karena mengetahui kemungkinan Nisa mencapai cita-citanya yang mulia mungkin hanya sekian persen, sedih karena kemungkinan Nisa keluar dari jerat ibunya hanya sekian persen.

suatu ketika saat aku berjalan-jalan di persawahan, aku melihat Nisa dengan seorang laki-laki paruh baya dan ku dengar Nisa memanggilnya bapak. Nisa tampak asyik membantu laki-laki itu mencabuti rumput di antara hamparan tanaman kacang tanah. sesekali Nisa menjerit ketika mendapati ulat-ulat kecil yang bersembunyi di balik tangkai dan daun-daun yang di pegangnya, lalu secepat kilat ia membuang daun tersebut dan mulai waspada, memainkan jari-jarinya menyibak daun, melihat adakah makhluk kecil yang ditakutinya itu.

aku tersenyum, semoga Nisa akan selalu seperti ini, tersenyum ceria di antara luka yang mungkin di jumpainya, seperti dandelion-dandelion yang tetap mempesona di antara tumbuhan lainnya.



mei.2014

0 komentar:

Posting Komentar