namanya Nisa. aku mengenalnya saat
kebetulan aku dan teman-temanku berkunjung ke suatu tempat wisata. Nisa adalah
anak seorang petani di pinggiran Desa tersebut. pertama kali bertemu, aku di
buat jengkel olehnya, kami memilih tempat tersebut karena menginginkan suasana
yang tenang dan damai, tapi selalu saja Nisa datang dengan temannya,
bertengkar. saling menjambak, berteriak, lalu menangis.
aku penasaran dengan Nisa, lalu ku
datangi rumahnya. aku tercengang. rumah berdinding kayu dengan lubang disana-sini,
berlantai tanah dengan selimut debu, dan atap yang,,,ahh sungguh tak bisa
dijelaskan.
"prangg..!!!!" sebuah
suara mengagetkanku. lalu Nisa keluar rumah sembari berlari di ikuti seorang
wanita muda yang tampak tak terlalu mengurus diri, yang ku kira adalah ibunya.
"kalau kamu mau makan, kerja dulu, cari uang, cari beras, jangan cuma
main-main, kamu kira dengan bermain beras bisa jatuh dari langit,? hah?"
wanita itu mebentak Nisa sambil menjjewer telinganya, ku lihat Nisa menahan
sakit, meringis. tiba-tiba wanita itu mendorong Nisa ke tanah, lalu dengan
cepat berjalan memasuki rumah. aku mendekatinya, membangunkannya, dan
mengajaknya ke penginapan. lihatlah, Nisa dengan rambut poninya yang menutupi
mata, bekas-bekas luka di wajahnya, baju yang tak sesuai ukuran tubuhnya, kaki
yang telanjang dengan warna gelap gulita, ahh sungguh pemandangan yang
menyesakkan dada.
aku bertanya beberapa kali, dan
akhirnya Nisa bercerita, tentang dirinya, tetang keluarganya, ia seharusnya
sudah kelas 5 SD, tapi ekonomi keluarganya tak pernah cukup untuk membiayainya.
ayahnya hanya kuli tani, begitupun ibunya. ibu Nisa menjadi begitu galak karena
sawah warisan satu-satunya yang dimiliki harus di jual untuk membiayai
pengobatannya, sehingga hidupnya sekarang ssemakin sulit, dan tak ada sumber
penghasilan yang pasti. "Nisa ingin jadi guru" ucapnya suatu ketika.
"kenapa?" tanyaku. "supaya Nisa bisa mengajar tentang akhlak
yang bagus, dan cara menghormati orang tua, dan anak-anak" jawabannya membuatku
kagum sekaligus sedih. sedih karena mengetahui kemungkinan Nisa mencapai
cita-citanya yang mulia mungkin hanya sekian persen, sedih karena kemungkinan
Nisa keluar dari jerat ibunya hanya sekian persen.
suatu ketika saat aku
berjalan-jalan di persawahan, aku melihat Nisa dengan seorang laki-laki paruh
baya dan ku dengar Nisa memanggilnya bapak. Nisa tampak asyik membantu
laki-laki itu mencabuti rumput di antara hamparan tanaman kacang tanah.
sesekali Nisa menjerit ketika mendapati ulat-ulat kecil yang bersembunyi di
balik tangkai dan daun-daun yang di pegangnya, lalu secepat kilat ia membuang
daun tersebut dan mulai waspada, memainkan jari-jarinya menyibak daun, melihat
adakah makhluk kecil yang ditakutinya itu.
aku tersenyum, semoga Nisa akan
selalu seperti ini, tersenyum ceria di antara luka yang mungkin di jumpainya,
seperti dandelion-dandelion yang tetap mempesona di antara tumbuhan lainnya.
mei.2014

0 komentar:
Posting Komentar