27 Mei 2014

0

Kekasih Hati



Aku menatapnya, Dimas tampak lelah. Aku baru saja mengantarnya chek up, kepalanya sering sakit akhir-akhir ini. Mungkin efek kecelakaan yang membuatnya koma waktu itu.
“Kamu beneran nggak apa-apa kalo aku tinggal?” Tanyaku masih dengan perasaan ragu. Dimas, baru bangun dari koma. Aku tak mungkin meninggalkannya, check up dan bolak-balik ke rumah sakit sendirian, belum lagi jika nyeri di kepalanya kambuh. Aku tak bisa membiarkannya sendiri melewati masa-masa itu. Aku ingin selalu berada di sampingnya, menemaninya.
“Iya nggak apa-apa kok. Bukannya ini cita-cita kamu dari dulu?” Dimas mencoba mengusir rasa khawatirku. “Lagian cuma setahun kan nggak lama.” Imbuhnya. Satu tahun memang tidak lama, jika kamu baik-baik saja, batinku.
Aku memenangkan tiket belajar di Australia. Dimas yang mendaftarkanku tahun lalu. Dimas tahu aku sangat ingin belajar ke luar negeri, namun karena keterbatasan biaya, aku tak bisa. Dimas berinisiatif mencarikan beasiswa untukku, sekedar untuk hidup dan belajar singkat disana. Karena itu juga Dimas mengalami kecelakaan yang membuatnya terbaring koma berbulan-bulan lamanya. Perjuangan Dimas tidak sia-sia, aku akhirnya mendapatkan tiketnya.
“Kalo nanti kamu kenapa-kenapa gimana?” Tanyaku dengan perasaan yang tak menentu.
“Nggak lah, aku kan uda sembuh, aku nggak bakal kenapa-kenapa lagi” Jawab Dimas membuat miris hatiku.
“Aku nggak mau kamu sendirian kalo sakit kaya gini lagi.”
“Kan ada Kak Fia, Sayang. Kamu nggak perlu khawatir.” Dimas tak henti meyakinkanku bahwa ia akan baik-baik saja. Kak Fia adalah kakak perempuan Dimas.
Aku menarik napas. Ku sentuh wajah Dimas, perlahan. Dari tatapan matanya, aku tahu Dimas benar-benar tak ingin aku kehilangan kesempatan ini. Tiba-tiba Dimas tersenyum, tampak lebih manis dari biasanya.
“Aku akan merasa berdosa kalo kamu nggak jadi pergi gara-gara khawatirin aku” Ucap Dimas pelan. Aku tersenyum, dan mengangguk.
***
Sudah satu bulan aku di Australia, mengikuti kursus sambil bekerja paruh waktu. Dimas baik-baik saja, aku tak perlu mengkhawatirkannya, begitulah yang ia tulis di pesan blackberry messenger. Dimas sering mengirimiku foto-fotonya. Saat sedang makan, check up, bahkan setiap saat agar aku yakin bahwa ia baik-baik saja, katanya. Aku juga mengiriminya foto tempat tinggalku, tempat kerjaku, dan beberapa tempat yang sengaja aku kunjungi. Tahun depan kita kesana bareng-bareng, tulis Dimas di salah satu pesannya. Dan aku mengamininya.
Dimas juga tak jarang mengirimiku pesan suara, untuk mengobati rinduku akan suaranya. Maklum, telfon antar negara sangat mahal, jadi kami memanfaatkan layanan pesan suara saja yang lebih murah.
“Hari ini jadwal chek up kan?”  Aku mengiriminya pesan.
“Iya, Sayang”. Jawab Dimas.
“Pergi sama siapa?”Aku bertanya.
“ Aku baik-baik aja, bisa pergi sendiri”.
“Beneran? Nggak minta tolong Kak Fia buat nganter?”
“Ngga usah, I’ll be okay J.” Tak lama kemudian Dimas mengirim fotonya yang sudah rapi, siap berangkat ke rumah sakit untuk chek up.
“Ok. Be Careful, I’ll accompany you from here J
“With my pleasure, Cherry :-* ”.
Aku mengakhiri percakapan dengan perasaan yang ku paksakan untuk tenang.
***
Aku merebahkan diri di atas tempat tidur. Rasanya sangat lelah hari ini. Aku membuka tas belanja, mengambil sesuatu. Aku tersenyum. Tak sabar melihat saat Dimas memakai baju ini.  Aku pengen baju tidur kangguru, katanya. Dan hari ini, aku membelikannya. Aku tiba-tiba tersenyum membayangkan wajahnya, ahh empat bulan bukan waktu yang lama, batinku.
Aku melihat handphone, tak ada balasan dari Dimas. Seharian ini Dimas tak mengirimku satu pesanpun. Aku cemas. Perasaanku tak tenang.
“Kak, Dimas kemana, kok seharian nggak bales pesanku?” Aku mengirim pesan ke Kak Fia. Tak ada balasan. Hatiku semakin tak menentu.
Tiba-tiba suara handphone mengagetkanku. Sebuah pesan. Dari Kak Fia.
“Maaf, Dik. Sakit kepala Dimas kambuh. Tadi pagi Dimas pamit mau chek up, tapi tiba-tiba jatuh pingsan, langsung kami bawa ke rumah sakit. Kakak belum sempat kasih kabar ke kamu.”
Tubuhku lunglai. Aku tak kuasa menahan air mataku yang entah sejak kapan mengambang di pelupuk mata.
“Sekarang gimana, Kak? Apa Dimas baik-baik aja?” Tanyaku. Ingin segera tahu.
“Dimas masih nggak sadar. Dia manggil-manggil kamu dari tadi.”
Aku semakin terpuruk. Hal yang aku takutkan kini terjadi. Hal yang aku khawatirkan menjadi kenyataan. Aku menangis sejadi-jadinya. Tak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan Dimas. Mungkin saat ini dia butuh aku, mungkin saat ini dia ingin aku di sampingnya. Pikiran-pikiran buruk semakin mengacaukan pikiranku. Aku tak kuasa menahannya. Aku ingin berada di sampingnya, memegang tangannya, mengatakan bahwa aku bersamanya, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa dia akan melewati ini, bahwa dia akan kembali. Aku ingin memegang wajahnya, melihat senyumnya, menatap matanya, melihat rasa sayangnya.
Dimas, maafin aku, aku nggak ada di samping kamu saat kamu butuh aku. Maafin aku karena ninggalin kamu. Maafin aku karena egois dengan cita-citaku. Aku menjerit mengucap kata maaf yang tak henti-hentinya keluar dari mulutku. Entah kepada siapa. Aku menyaksikan dinding-dinding kamar mengejek karena keeogisanku. Aku membanting handphoneku. Merasa tak berdaya dan tak bisa melakukan apa-apa.
Dimas, maafin aku, Sayang. Aku nggak ada di samping kamu. Ucapku tak henti-hentinya.
***
Aku segera mencari taksi. Aku ingin segera sampai dan bertemu Dimas. Setelah mendengar kabar bahwa Dimas masuk rumah sakit lagi, aku langsung mengurus cuti. Aku beralasan bahwa nenekku sakit dan ingin segera berteu denganku. Aku mengambil penerbangan pertama pagi harinya.
Kak Fia sudah menungguku di gerbang rumah sakit. Aku melangkah tergesa-gesa. Tiba-tiba pandanganku menjadi kabur, air mataku berjatuhan. Kak Fia memelukku. Koper dan tasku jatuh berserakan di halaman rumah sakit. Aku menangis sesenggukan. Tak ada kalimat yang terucap. Rasanya tak ada yang bisa mewakili perasaanku, kecuali air mata ini, tentunya.
Kami berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan berhenti di sebuah ruangan. Aku tak pernah menyangka Dimas separah ini sampai harus dirawat di ruang intensif. Aku menghambur masuk. Aku tercengang melihat Dimas tak berdaya dengan alat-alat yang menempel di tubuhnya.
Ku peluk Dimas. Air mataku benar-benar seperti hujan deras di musim dingin, membanjiri pipi, membasahi baju yang dikenakan Dimas.
“Kamu bilang nggak akan kenapa-kenapa kalo aku tinggal pergi, kenapa kaya gini?” Aku berbicara sambil mencoba menahan isak yang tak kunjung berhenti. Aku memandang wajah Dimas, tampak lemah. Ku sentuh pipinya, berharap ia membuka mata sehingga bisa melihatku di sampingnya.
“Dimas, bangun. Aku disini sekarang. Aku ada buat kamu.” Aku mengguncang tubuh Dimas. Berharap ia terbangun dari tidurnya.
“Cherry.” Tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku. Ku lihat Dimas membuka mata dan memandangku. Aku mendekati wajahnya, mencium keningnya, matanya.
“I am here for you. I promise will never leave you anymore.” Ucapku sambil memegang wajahnya. Aku memandang matanya agar ia yakin bahwa aku bersungguh-sungguh menemaninya dan tak akan meninggalkannya lagi, seperti beberapa bulan lalu.
***
“Kamu kok pulang cepet?” Tanya Dimas saat aku sedang menyiapkan makan siangnya. Dimas diijinkan pulang minggu lalu. Keadaannya kini jauh lebih baik, mungkin karena perasaannya bahagia sehingga mempercepat kesembuhannya.
“Gimana bisa tenang kalo kamu kaya gitu, baru ditinggal bentar aja uda ngambek sampe-sampe pingsan segala. Ngga kuat nahan kangen ya” Jawabku sambil mengedipkan mata menggodanya. Dimas tertawa.
“Iya aku kangen sama kamu. Habisnya nggak ada yang merhatiin, nggak ada yang ngurusin. Rasanya hidupku jadi hampa” Dimas berkata sungguh-sungguh.
“Sekarang kan aku udah di sini, di samping kamu lagi. Jadi kamu nggak usah khawatir. Jangan sakit lagi ya.” Aku mengecup keningnya. “Nih makannya udah siap, terus habis ini minum obat” Kataku sambil menaruh piring berisi nasi kering favoritnya. Aku juga mengambil obat yang harus diminumnya.
“Makasih ya, Sayang, udah merhatiin aku. I love you much, Cherry” Aku dikagetkan oleh pelukan Dimas yang tiba-tiba. Lalu ia
“I love you more.” Balasku.
***
“Sayang, bangun” Aku menggoyang tubuh Dimas. Tak ada respon. Aku menggelitikinya.
“Sayang, katanya mu jalan-jalan?” Aku menyentuh tangan Dimas. Terasa dingin.
Tiba-tiba aku merasa curiga dan takut. Aku mendekati wajah Dimas, meletakkan telingaku di depan hidungnya.
Tubuhku lemas seperti tak bertulang. Tak mungkin ini terjadi. Aku menjerit.
“Dimaaasssssss!!!!!!!!!!!!!!!!.” Lalu air mataku berjatuhan seperti hujan yang tiba-tiba deras ditengah kemarau panjang.
Kak Fia tiba-tiba datang. Terkejut mendengar teriakanku.
“Kenapa, Dik?” Pertanyaan Kak Fia ku jawab dengan isak yang semakin banyak. Aku masih memegang wajah Dimas yang terlihat semakin pucat. Kak Fia tak menunggu lama, langsung memeriksa nadi di tangan Dimas. Sedetik kemudian ku lihat Kak Fia lunglai tak berdaya. Wajahnya seakan tak percaya pada apa yang di lihatnya.
Dimas telah pergi. Pergi untuk selama-lamanya. Aku tak percaya ini bisa terjadi.
Baru kemarin aku pulang untuk melihatnya kembali ceria seperti sedia kala. Baru kemarin aku pulang membawakan baju tidur kangguru impiannya. Baru kemarin semuanya terjadi dan kini pergi secara tiba-tiba. Perlahan tanpa pemberitahuan.
Aku masih ingat senyumnya saat berjalan keluar dari rumah sakit. “Aku janji nggak akan kesini lagi” Begitu ucap Dimas di sela-sela langkah kakinya. Aku masih ingat Dimas mengatakan bahwa dia mencintaiku, lalu tiba-tiba memelukku. Aku bahkan masih bisa merasakan hangat tubuhnya yang menempel di kulitku. Aku masih mencium aroma parfumnya di bajuku.
Aku masih ingat kemarin Dimas meminta foto berdua memakai baju tidur kangguru sebagai dokumentasi atas hadiah yang paling disukainya. Aku masih ingat kemarin Dimas memintaku mengantarnya jalan-jalan ke taman untuk menghabiskan waktu berdua. Aku masih ingat itu semua. Tapi mengapa kini semua itu sirna.
Tangisku tak berhenti, bahkan semakin menjadi ketika ku merasakan tubuh di pelukanku semakin dingin dan perlahan menjadi kaku. Aku memeluk Dimas semakin erat. Aku tak ingin melepasnya. Aku tak ingin membiarkannya sendiri. Aku akan menemaninya. Aku akan bersamanya.
“Sayang,,,bangun. Kamu janji nggak akan kenapa-kenapa lagi. Kamu janji kita akan ke Aussie tahun depan. Kamu janji akan nemenin aku.” Aku meratap. Hatiku merasa tak rela jika harus kehilangan Dimas secepat ini.
“Dimas,, aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Kamu mau bangun lagi kan, Sayang?” Aku tak henti berbicara kepada tubuh yang terbujur kaku di pelukanku.
Aku mempererat pelukanku. Tak ingin ada orang lain memisahkannya dariku. Aku mendekapnya. Mendekap erat kekasih hatiku.

0 komentar:

Posting Komentar