Aku
menatapnya, Dimas tampak lelah. Aku baru saja mengantarnya chek up, kepalanya
sering sakit akhir-akhir ini. Mungkin efek kecelakaan yang membuatnya koma
waktu itu.
“Kamu
beneran nggak apa-apa kalo aku tinggal?” Tanyaku masih dengan perasaan ragu.
Dimas, baru bangun dari koma. Aku tak mungkin meninggalkannya, check up dan
bolak-balik ke rumah sakit sendirian, belum lagi jika nyeri di kepalanya
kambuh. Aku tak bisa membiarkannya sendiri melewati masa-masa itu. Aku ingin selalu
berada di sampingnya, menemaninya.
“Iya
nggak apa-apa kok. Bukannya ini cita-cita kamu dari dulu?” Dimas mencoba
mengusir rasa khawatirku. “Lagian cuma setahun kan nggak lama.” Imbuhnya. Satu
tahun memang tidak lama, jika kamu baik-baik saja, batinku.
Aku
memenangkan tiket belajar di Australia. Dimas yang mendaftarkanku tahun lalu.
Dimas tahu aku sangat ingin belajar ke luar negeri, namun karena keterbatasan
biaya, aku tak bisa. Dimas berinisiatif mencarikan beasiswa untukku, sekedar
untuk hidup dan belajar singkat disana. Karena itu juga Dimas mengalami
kecelakaan yang membuatnya terbaring koma berbulan-bulan lamanya. Perjuangan
Dimas tidak sia-sia, aku akhirnya mendapatkan tiketnya.
“Kalo
nanti kamu kenapa-kenapa gimana?” Tanyaku dengan perasaan yang tak menentu.
“Nggak
lah, aku kan uda sembuh, aku nggak bakal kenapa-kenapa lagi” Jawab Dimas
membuat miris hatiku.
“Aku
nggak mau kamu sendirian kalo sakit kaya gini lagi.”
“Kan
ada Kak Fia, Sayang. Kamu nggak perlu khawatir.” Dimas tak henti meyakinkanku
bahwa ia akan baik-baik saja. Kak Fia adalah kakak perempuan Dimas.
Aku
menarik napas. Ku sentuh wajah Dimas, perlahan. Dari tatapan matanya, aku tahu
Dimas benar-benar tak ingin aku kehilangan kesempatan ini. Tiba-tiba Dimas
tersenyum, tampak lebih manis dari biasanya.
“Aku
akan merasa berdosa kalo kamu nggak jadi pergi gara-gara khawatirin aku” Ucap
Dimas pelan. Aku tersenyum, dan mengangguk.
***
Sudah
satu bulan aku di Australia, mengikuti kursus sambil bekerja paruh waktu. Dimas
baik-baik saja, aku tak perlu mengkhawatirkannya, begitulah yang ia tulis di
pesan blackberry messenger. Dimas sering mengirimiku foto-fotonya. Saat sedang
makan, check up, bahkan setiap saat agar aku yakin bahwa ia baik-baik saja,
katanya. Aku juga mengiriminya foto tempat tinggalku, tempat kerjaku, dan
beberapa tempat yang sengaja aku kunjungi. Tahun depan kita kesana
bareng-bareng, tulis Dimas di salah satu pesannya. Dan aku mengamininya.
Dimas
juga tak jarang mengirimiku pesan suara, untuk mengobati rinduku akan suaranya.
Maklum, telfon antar negara sangat mahal, jadi kami memanfaatkan layanan pesan
suara saja yang lebih murah.
“Hari ini jadwal chek up kan?” Aku mengiriminya pesan.
“Iya, Sayang”. Jawab
Dimas.
“Pergi sama siapa?”Aku
bertanya.
“ Aku baik-baik aja, bisa pergi
sendiri”.
“Beneran? Nggak minta tolong Kak
Fia buat nganter?”
“Ngga usah, I’ll be okay J.”
Tak
lama kemudian Dimas mengirim fotonya yang sudah rapi, siap berangkat ke rumah
sakit untuk chek up.
“Ok. Be Careful, I’ll accompany you
from here J”
“With my pleasure, Cherry :-* ”.
Aku
mengakhiri percakapan dengan perasaan yang ku paksakan untuk tenang.
***
Aku
merebahkan diri di atas tempat tidur. Rasanya sangat lelah hari ini. Aku
membuka tas belanja, mengambil sesuatu. Aku tersenyum. Tak sabar melihat saat
Dimas memakai baju ini. Aku pengen baju
tidur kangguru, katanya. Dan hari ini, aku membelikannya. Aku tiba-tiba
tersenyum membayangkan wajahnya, ahh empat bulan bukan waktu yang lama,
batinku.
Aku
melihat handphone, tak ada balasan dari Dimas. Seharian ini Dimas tak
mengirimku satu pesanpun. Aku cemas. Perasaanku tak tenang.
“Kak, Dimas kemana, kok seharian
nggak bales pesanku?” Aku mengirim pesan ke Kak Fia. Tak
ada balasan. Hatiku semakin tak menentu.
Tiba-tiba
suara handphone mengagetkanku. Sebuah pesan. Dari Kak Fia.
“Maaf, Dik. Sakit kepala Dimas
kambuh. Tadi pagi Dimas pamit mau chek up, tapi tiba-tiba jatuh pingsan,
langsung kami bawa ke rumah sakit. Kakak belum sempat kasih kabar ke kamu.”
Tubuhku
lunglai. Aku tak kuasa menahan air mataku yang entah sejak kapan mengambang di
pelupuk mata.
“Sekarang gimana, Kak? Apa Dimas
baik-baik aja?” Tanyaku. Ingin segera tahu.
“Dimas masih nggak sadar. Dia
manggil-manggil kamu dari tadi.”
Aku
semakin terpuruk. Hal yang aku takutkan kini terjadi. Hal yang aku khawatirkan
menjadi kenyataan. Aku menangis sejadi-jadinya. Tak bisa membayangkan apa yang
terjadi dengan Dimas. Mungkin saat ini dia butuh aku, mungkin saat ini dia
ingin aku di sampingnya. Pikiran-pikiran buruk semakin mengacaukan pikiranku.
Aku tak kuasa menahannya. Aku ingin berada di sampingnya, memegang tangannya,
mengatakan bahwa aku bersamanya, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja,
bahwa dia akan melewati ini, bahwa dia akan kembali. Aku ingin memegang
wajahnya, melihat senyumnya, menatap matanya, melihat rasa sayangnya.
Dimas,
maafin aku, aku nggak ada di samping kamu saat kamu butuh aku. Maafin aku
karena ninggalin kamu. Maafin aku karena egois dengan cita-citaku. Aku menjerit
mengucap kata maaf yang tak henti-hentinya keluar dari mulutku. Entah kepada
siapa. Aku menyaksikan dinding-dinding kamar mengejek karena keeogisanku. Aku
membanting handphoneku. Merasa tak berdaya dan tak bisa melakukan apa-apa.
Dimas,
maafin aku, Sayang. Aku nggak ada di samping kamu. Ucapku tak henti-hentinya.
***
Aku
segera mencari taksi. Aku ingin segera sampai dan bertemu Dimas. Setelah
mendengar kabar bahwa Dimas masuk rumah sakit lagi, aku langsung mengurus cuti.
Aku beralasan bahwa nenekku sakit dan ingin segera berteu denganku. Aku
mengambil penerbangan pertama pagi harinya.
Kak
Fia sudah menungguku di gerbang rumah sakit. Aku melangkah tergesa-gesa.
Tiba-tiba pandanganku menjadi kabur, air mataku berjatuhan. Kak Fia memelukku.
Koper dan tasku jatuh berserakan di halaman rumah sakit. Aku menangis
sesenggukan. Tak ada kalimat yang terucap. Rasanya tak ada yang bisa mewakili
perasaanku, kecuali air mata ini, tentunya.
Kami
berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan berhenti di sebuah ruangan. Aku tak
pernah menyangka Dimas separah ini sampai harus dirawat di ruang intensif. Aku
menghambur masuk. Aku tercengang melihat Dimas tak berdaya dengan alat-alat
yang menempel di tubuhnya.
Ku
peluk Dimas. Air mataku benar-benar seperti hujan deras di musim dingin, membanjiri
pipi, membasahi baju yang dikenakan Dimas.
“Kamu
bilang nggak akan kenapa-kenapa kalo aku tinggal pergi, kenapa kaya gini?” Aku
berbicara sambil mencoba menahan isak yang tak kunjung berhenti. Aku memandang
wajah Dimas, tampak lemah. Ku sentuh pipinya, berharap ia membuka mata sehingga
bisa melihatku di sampingnya.
“Dimas,
bangun. Aku disini sekarang. Aku ada buat kamu.” Aku mengguncang tubuh Dimas.
Berharap ia terbangun dari tidurnya.
“Cherry.”
Tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku. Ku lihat Dimas membuka mata dan
memandangku. Aku mendekati wajahnya, mencium keningnya, matanya.
“I
am here for you. I promise will never leave you anymore.” Ucapku sambil
memegang wajahnya. Aku memandang matanya agar ia yakin bahwa aku
bersungguh-sungguh menemaninya dan tak akan meninggalkannya lagi, seperti
beberapa bulan lalu.
***
“Kamu
kok pulang cepet?” Tanya Dimas saat aku sedang menyiapkan makan siangnya. Dimas
diijinkan pulang minggu lalu. Keadaannya kini jauh lebih baik, mungkin karena
perasaannya bahagia sehingga mempercepat kesembuhannya.
“Gimana
bisa tenang kalo kamu kaya gitu, baru ditinggal bentar aja uda ngambek
sampe-sampe pingsan segala. Ngga kuat nahan kangen ya” Jawabku sambil
mengedipkan mata menggodanya. Dimas tertawa.
“Iya
aku kangen sama kamu. Habisnya nggak ada yang merhatiin, nggak ada yang
ngurusin. Rasanya hidupku jadi hampa” Dimas berkata sungguh-sungguh.
“Sekarang
kan aku udah di sini, di samping kamu lagi. Jadi kamu nggak usah khawatir.
Jangan sakit lagi ya.” Aku mengecup keningnya. “Nih makannya udah siap, terus
habis ini minum obat” Kataku sambil menaruh piring berisi nasi kering
favoritnya. Aku juga mengambil obat yang harus diminumnya.
“Makasih
ya, Sayang, udah merhatiin aku. I love you much, Cherry” Aku dikagetkan oleh
pelukan Dimas yang tiba-tiba. Lalu ia
“I
love you more.” Balasku.
***
“Sayang,
bangun” Aku menggoyang tubuh Dimas. Tak ada respon. Aku menggelitikinya.
“Sayang,
katanya mu jalan-jalan?” Aku menyentuh tangan Dimas. Terasa dingin.
Tiba-tiba
aku merasa curiga dan takut. Aku mendekati wajah Dimas, meletakkan telingaku di
depan hidungnya.
Tubuhku
lemas seperti tak bertulang. Tak mungkin ini terjadi. Aku menjerit.
“Dimaaasssssss!!!!!!!!!!!!!!!!.”
Lalu air mataku berjatuhan seperti hujan yang tiba-tiba deras ditengah kemarau
panjang.
Kak
Fia tiba-tiba datang. Terkejut mendengar teriakanku.
“Kenapa,
Dik?” Pertanyaan Kak Fia ku jawab dengan isak yang semakin banyak. Aku masih
memegang wajah Dimas yang terlihat semakin pucat. Kak Fia tak menunggu lama,
langsung memeriksa nadi di tangan Dimas. Sedetik kemudian ku lihat Kak Fia
lunglai tak berdaya. Wajahnya seakan tak percaya pada apa yang di lihatnya.
Dimas
telah pergi. Pergi untuk selama-lamanya. Aku tak percaya ini bisa terjadi.
Baru
kemarin aku pulang untuk melihatnya kembali ceria seperti sedia kala. Baru
kemarin aku pulang membawakan baju tidur kangguru impiannya. Baru kemarin
semuanya terjadi dan kini pergi secara tiba-tiba. Perlahan tanpa pemberitahuan.
Aku
masih ingat senyumnya saat berjalan keluar dari rumah sakit. “Aku janji nggak
akan kesini lagi” Begitu ucap Dimas di sela-sela langkah kakinya. Aku masih
ingat Dimas mengatakan bahwa dia mencintaiku, lalu tiba-tiba memelukku. Aku
bahkan masih bisa merasakan hangat tubuhnya yang menempel di kulitku. Aku masih
mencium aroma parfumnya di bajuku.
Aku
masih ingat kemarin Dimas meminta foto berdua memakai baju tidur kangguru sebagai
dokumentasi atas hadiah yang paling disukainya. Aku masih ingat kemarin Dimas
memintaku mengantarnya jalan-jalan ke taman untuk menghabiskan waktu berdua.
Aku masih ingat itu semua. Tapi mengapa kini semua itu sirna.
Tangisku
tak berhenti, bahkan semakin menjadi ketika ku merasakan tubuh di pelukanku
semakin dingin dan perlahan menjadi kaku. Aku memeluk Dimas semakin erat. Aku
tak ingin melepasnya. Aku tak ingin membiarkannya sendiri. Aku akan
menemaninya. Aku akan bersamanya.
“Sayang,,,bangun.
Kamu janji nggak akan kenapa-kenapa lagi. Kamu janji kita akan ke Aussie tahun
depan. Kamu janji akan nemenin aku.” Aku meratap. Hatiku merasa tak rela jika
harus kehilangan Dimas secepat ini.
“Dimas,,
aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Kamu mau bangun lagi kan, Sayang?”
Aku tak henti berbicara kepada tubuh yang terbujur kaku di pelukanku.
Aku
mempererat pelukanku. Tak ingin ada orang lain memisahkannya dariku. Aku
mendekapnya. Mendekap erat kekasih hatiku.

0 komentar:
Posting Komentar