'maaf' ucap Firsya kepada seseorang yang berdiri di hadapannya. begitu
dekat, bahkan memandang matanya saja membuatnya ia ragu untuk mengungkapkan
kegalauan yang selama ini menghantui malam-malamnya.
"untuk apa?" tanya Dimas kemudian. wajahnya masih sama, wajah yang
terlihat teduh, wajah yang membuat Firsya jatuh cinta.
"untuk semuanya, untuk kebodohanku, kepayahanku, semuanya" air mata Firsya hampir saja lepas dari kelopak, lalu cepat-cepat ia menunduk dalam, menyebunyikan rona kesedihan.
"tak bisakah kau berhenti meminta maaf? aku bosan mendengarnya, aku benci mendengar permintaan maafmu yang berulang kali itu". datar. Dimas mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya menggelayuti pikiran wanita yang sangat di cintainya itu.
"apa salah jika aku meminta maaf? apa salah jika aku menyadari kesalahanku,? lagipula siapa yang selalu mengatakan aku aneh, aku payah, sadis, dan masih banyak lagi aku yang selalu terlihat bodoh di matamu,?" air mata Firsya pun perlahan mengalir. isaknya samar-samar terdengar.
"jangan meminta maaf lagi, aku benar-benar tak ingin mendengarnya" ucap Dimas sambil memeluk kekasihnya itu. "aku mencintaimu, semua hal tentang dirimu, tak peduli kau aneh, payah, atau apapun itu, semua yang ku katakan hanyalah karena aku mencintaimu dan keunikanmu. aku ingin kau tetap tertawa bahagia saat ku katakan kau aneh, ataupun payah, lalu menggodaku dengan kata manjamu, sehinga aku tak kuasa untuk tidak mencintaimu, sehingga aku tak punya pilihan lagi selain tetap mencintaimu"
"untuk semuanya, untuk kebodohanku, kepayahanku, semuanya" air mata Firsya hampir saja lepas dari kelopak, lalu cepat-cepat ia menunduk dalam, menyebunyikan rona kesedihan.
"tak bisakah kau berhenti meminta maaf? aku bosan mendengarnya, aku benci mendengar permintaan maafmu yang berulang kali itu". datar. Dimas mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya menggelayuti pikiran wanita yang sangat di cintainya itu.
"apa salah jika aku meminta maaf? apa salah jika aku menyadari kesalahanku,? lagipula siapa yang selalu mengatakan aku aneh, aku payah, sadis, dan masih banyak lagi aku yang selalu terlihat bodoh di matamu,?" air mata Firsya pun perlahan mengalir. isaknya samar-samar terdengar.
"jangan meminta maaf lagi, aku benar-benar tak ingin mendengarnya" ucap Dimas sambil memeluk kekasihnya itu. "aku mencintaimu, semua hal tentang dirimu, tak peduli kau aneh, payah, atau apapun itu, semua yang ku katakan hanyalah karena aku mencintaimu dan keunikanmu. aku ingin kau tetap tertawa bahagia saat ku katakan kau aneh, ataupun payah, lalu menggodaku dengan kata manjamu, sehinga aku tak kuasa untuk tidak mencintaimu, sehingga aku tak punya pilihan lagi selain tetap mencintaimu"
april_2014

0 komentar:
Posting Komentar